Petualangan???
Saya mulai tulisan ini dengan sebuah kata “petualangan”
tetapi, petualagan disini bukan arti yang sebenarnya. Petualangan disini
berarti proses atau perjalanan saya dalam memahami setiap sifat dan watak
seseorang dari berbagai latar belakang yang saya temui dalam satu bulan
terakhir. Dalam satu bulan terakhir ini saya menemui beberapa orang dan
tentunya juga dengan berbagai pemikiran dan cara pandang yang berbeda pula. Dari
sini saya dapat mengambil suatu pelajaran bahwa umur bukan penentu kedewasaan.
Sedangkan lingkungan dan pendidikan sangat berpengaruh terhadap cara berpikir
dan cara pandang seseorang. Sebagai contoh kecil, orang yang berpendidikan dan
mempunyai suatu kesibukan atau pekerjaan yang menuntut penguasaan suatu ilmu
pengetahuan tertentu cenderung cuek dan hanya membicarakan apa yang dianggapya
pantas untuk dibicarakan dan tidak suka membuang-buang waktu hanya untuk suatu
urusan yang tidak penting. Sedangkan orang yang berpendidikan sedang dan berada
pada lingkungan yang kurang baik akan terlihat lebih labil dan kurang konsisten
terutama cara berpikir mereka cenderung hanya memandang dari satu sisi dan
terkadang apa yang ia lihat langsung ia telan mentah-mentah tanpa memasaknya
terlebih dahulu.
Melihat hal tersebut saya sedikit mengalami kesulitan dalam
memahami contoh yang kedua. Karena, orang dengan tipe seperti itu terkadang
sulit untuk diajak berkomunikasi dan sering terjadi miskomunikasi. Orang
tersebut menuntut kita memahami mereka tetapi mereka tidak mau tau dengan kita.
Terkadang orang seperti itu sangat sensitif melebihi sensifnya seorang
perempuan. Suka mendikte tetapi tidak mau di dikte. Suka meminta lebih tetapi
dirinya tidak memberi apapun. Cara berpikirnya pun sempit dan kadang hanya
melihat sesuatu dari fisiknya saja bukan isinya. Sekali lagi don’t judge the
book by each cover. Jangan menilai orang hanya dari penampilannya saja karena
penampilan dapat diubah sesuai dengan apa yang diinginkan orang tersebut bukan
apa yang diinginkan/dilihat orang lain.
………………………………………………………………………………..
Relationship
Berkaitan dengan hal tersebut. Saya pun mencoba untuk
belajar bagaimana menghadapi seseorang. Walaupun sedikit berat tetapi saya
ingin tidak berhenti pada zona nyaman saya. Dengan mencoba untuk memahami hal
tersebut memang cukup menguras emosi dan kesabaran saya. Karena hal tersebut sedikit
banyak sangat bertentangan dengan prinsip saya saat ini. Dan jujur saya sedikit
egois. Terkadang apa yang saya anggap tidak sesuai dengan logika pemikiran saya
tanpa berpikir panjang akan segera saya tinggalkan. Tetapi untuk hal ini saya
mencoba belajar untuk memahami keadaan sesorang di sekitar saya, dan sedikit
meredam sisi keegoisan saya. Memang susah dan sedikit memerlukan paksaan.
Tetapi sejauh ini sampai tulisan ini saya posting saya tetap sabar dan mencoba
untuk tetap memahami orang tersebut.
Dalam proses itu saya mulai tersadar dan bertanya dalam diri
saya sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Dan satu hal yang sangat mencolok
adalah bahwa selama ini saya terlalu bermain dengan logika (mind) dan
meninggalkan hati (heart). Walaupun dalam perjalanannya logika dan hati itu
saling berkolaborasi tetapi ingat bahwa terkadang kita juga perlu dalam
memandang sesuatu hanya dengan logika saja dan hanya dengan hati saja, atau
keduanya berjalan beriringan. Oleh
karenanya dalam memandang sesuatu terkait dengan sebuah relationship kita harus
pandai-pandai dalam mengkolaborasikan antara hati dan pikiran (logika).
Jujur sampai detik ini 75% yang bermain adalah logika dan
sisanya hatilah yang berbicara. Untuk saat ini jika dibilang egois saya pikir
bukan, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai suatu Idealisme. Setiap manusia
pasti mempunyai idealisme masing-masing. Idealisme disini lebih kepada
prinsip-prinsip dalam menjalani kehidupan. Dan sekali lagi saya ingin prinsip
saya runtuh bukan karena apa dan siapa tetapi prinsip tersebut runtuh dengan
sendirinya akibat tuntutan perkembangan kehidupan.
Dalam menjalin suatu relationship kita harus selektif dan
jangan banyak berbuat kesalahan. Prinsip kepercayaan itu yang paling penting.
Apalagi saya adalah orang yang sulit untuk percaya pada suatu relationship.
Omongan manis siapapun bisa membuat tetapi ingat pembuktian itu lebih penting.
Jangan sampai di dalam sebuah relationship terjadi sebuah kebohongan. Mungkin
dengan kebohongan itu akan menyelamatkan
kita pada saat itu tetapi ingat kebohongan dapat menghancurkan kita
kapan saja.
Relationship merupakan sebuah fase dalam kehidupan manusia.
Jadi tanggung jawab dalam sebuah relationship bukan sekedar manusia antar manusia
tetapi juga antara manusia dengan tuhannya. Dan ingat dalam sebuah relationship
tidak selalu berjalan dengan mulus. Pasti ada saja cobaan yang datang, baik
besar maupun kecil. Banyaknya perbedaan yang ada harusnya tidak perlu menjadikan
suatu masalah yang besar. Karena dari semua perbedaan yang ada komitmenlah yang
akan menyatukan.
Saya termasuk orang yang cuek dan parahnya seseorang
tersebut adalah orang yang lumayan cuek dan susah untuk peka. Menghadapi hal
tersebut terkadang muncul rasa malas dan acuh tetapi nggak tau kenapa dibalik
semua keraguan yang ada sampai tulisan ini saya posting kami masih baik-baik
saja.
Disini diperlukan cara berpikir yang luas dan kelapangan
hati dalam menerima setiap keadaan yang tercipta. Belajar berfikir positif
dengan dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi mungkin bisa dilakukan
agar relationship yang terjalin semakin kuat. Dan yang tak kalah penting adalah
adanya saling pengertian antara satu sama lain mengingat banyaknya kegiatan
yang dilakukan masing-masing dan lebih kompromi terhadap waktu. Selebihnya kita
dapat lebih belajar untuk bersabar dan menikmati setiap proses yang telah
digariskan oleh Tuhan.
………………………………………………………………….
Dalam memandang sesuatu terkadang manusia hanya melihat dari
apa yang ia lihat. Padahal apa yang ia lihat terkadang tidak seindah dan bahkan
tidak seburuk yang ia lihat. Yang namanya “casing” bisa diganti setiap saat.
Terkadang yang ditampilkan seseorang memang benar-benar apa yang ia ingin
tampilkan bukan apa yang ingin orang lain lihat. Hanya orang yang mengalami
kesempitan berpikirlah yang tertipu dan percaya hanya dengan dengan melihat
casingnya saja. Dari situ dapat kita lihat bahwa dalam berpikir manusia saat
ini masih banyak yang terkungkkung dengan satu sudut pandang saja atau
memandang hanya dari satu sisi, dan tentunya sisi tersebut belum tentu
mencerminkan suatu kebenaran. Perluasan cakrawala berpikir sangat diperlukan
jika manusia ingin maju dan lebih mengembangkan budayanya.
Please Peka!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar