Kamis, 15 Oktober 2015

Petualangan???



Petualangan???
Saya mulai tulisan ini dengan sebuah kata “petualangan” tetapi, petualagan disini bukan arti yang sebenarnya. Petualangan disini berarti proses atau perjalanan saya dalam memahami setiap sifat dan watak seseorang dari berbagai latar belakang yang saya temui dalam satu bulan terakhir. Dalam satu bulan terakhir ini saya menemui beberapa orang dan tentunya juga dengan berbagai pemikiran dan cara pandang yang berbeda pula. Dari sini saya dapat mengambil suatu pelajaran bahwa umur bukan penentu kedewasaan. Sedangkan lingkungan dan pendidikan sangat berpengaruh terhadap cara berpikir dan cara pandang seseorang. Sebagai contoh kecil, orang yang berpendidikan dan mempunyai suatu kesibukan atau pekerjaan yang menuntut penguasaan suatu ilmu pengetahuan tertentu cenderung cuek dan hanya membicarakan apa yang dianggapya pantas untuk dibicarakan dan tidak suka membuang-buang waktu hanya untuk suatu urusan yang tidak penting. Sedangkan orang yang berpendidikan sedang dan berada pada lingkungan yang kurang baik akan terlihat lebih labil dan kurang konsisten terutama cara berpikir mereka cenderung hanya memandang dari satu sisi dan terkadang apa yang ia lihat langsung ia telan mentah-mentah tanpa memasaknya terlebih dahulu.
Melihat hal tersebut saya sedikit mengalami kesulitan dalam memahami contoh yang kedua. Karena, orang dengan tipe seperti itu terkadang sulit untuk diajak berkomunikasi dan sering terjadi miskomunikasi. Orang tersebut menuntut kita memahami mereka tetapi mereka tidak mau tau dengan kita. Terkadang orang seperti itu sangat sensitif melebihi sensifnya seorang perempuan. Suka mendikte tetapi tidak mau di dikte. Suka meminta lebih tetapi dirinya tidak memberi apapun. Cara berpikirnya pun sempit dan kadang hanya melihat sesuatu dari fisiknya saja bukan isinya. Sekali lagi don’t judge the book by each cover. Jangan menilai orang hanya dari penampilannya saja karena penampilan dapat diubah sesuai dengan apa yang diinginkan orang tersebut bukan apa yang diinginkan/dilihat orang lain.
………………………………………………………………………………..
Relationship
Berkaitan dengan hal tersebut. Saya pun mencoba untuk belajar bagaimana menghadapi seseorang. Walaupun sedikit berat tetapi saya ingin tidak berhenti pada zona nyaman saya. Dengan mencoba untuk memahami hal tersebut memang cukup menguras emosi dan kesabaran saya. Karena hal tersebut sedikit banyak sangat bertentangan dengan prinsip saya saat ini. Dan jujur saya sedikit egois. Terkadang apa yang saya anggap tidak sesuai dengan logika pemikiran saya tanpa berpikir panjang akan segera saya tinggalkan. Tetapi untuk hal ini saya mencoba belajar untuk memahami keadaan sesorang di sekitar saya, dan sedikit meredam sisi keegoisan saya. Memang susah dan sedikit memerlukan paksaan. Tetapi sejauh ini sampai tulisan ini saya posting saya tetap sabar dan mencoba untuk tetap memahami orang tersebut.
Dalam proses itu saya mulai tersadar dan bertanya dalam diri saya sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Dan satu hal yang sangat mencolok adalah bahwa selama ini saya terlalu bermain dengan logika (mind) dan meninggalkan hati (heart). Walaupun dalam perjalanannya logika dan hati itu saling berkolaborasi tetapi ingat bahwa terkadang kita juga perlu dalam memandang sesuatu hanya dengan logika saja dan hanya dengan hati saja, atau keduanya berjalan beriringan.  Oleh karenanya dalam memandang sesuatu terkait dengan sebuah relationship kita harus pandai-pandai dalam mengkolaborasikan antara hati dan pikiran (logika).
Jujur sampai detik ini 75% yang bermain adalah logika dan sisanya hatilah yang berbicara. Untuk saat ini jika dibilang egois saya pikir bukan, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai suatu Idealisme. Setiap manusia pasti mempunyai idealisme masing-masing. Idealisme disini lebih kepada prinsip-prinsip dalam menjalani kehidupan. Dan sekali lagi saya ingin prinsip saya runtuh bukan karena apa dan siapa tetapi prinsip tersebut runtuh dengan sendirinya akibat tuntutan perkembangan kehidupan.
Dalam menjalin suatu relationship kita harus selektif dan jangan banyak berbuat kesalahan. Prinsip kepercayaan itu yang paling penting. Apalagi saya adalah orang yang sulit untuk percaya pada suatu relationship. Omongan manis siapapun bisa membuat tetapi ingat pembuktian itu lebih penting. Jangan sampai di dalam sebuah relationship terjadi sebuah kebohongan. Mungkin dengan kebohongan itu akan menyelamatkan  kita pada saat itu tetapi ingat kebohongan dapat menghancurkan kita kapan saja.
Relationship merupakan sebuah fase dalam kehidupan manusia. Jadi tanggung jawab dalam sebuah relationship bukan sekedar manusia antar manusia tetapi juga antara manusia dengan tuhannya. Dan ingat dalam sebuah relationship tidak selalu berjalan dengan mulus. Pasti ada saja cobaan yang datang, baik besar maupun kecil. Banyaknya perbedaan yang ada harusnya tidak perlu menjadikan suatu masalah yang besar. Karena dari semua perbedaan yang ada komitmenlah yang akan menyatukan.
Saya termasuk orang yang cuek dan parahnya seseorang tersebut adalah orang yang lumayan cuek dan susah untuk peka. Menghadapi hal tersebut terkadang muncul rasa malas dan acuh tetapi nggak tau kenapa dibalik semua keraguan yang ada sampai tulisan ini saya posting kami masih baik-baik saja.
Disini diperlukan cara berpikir yang luas dan kelapangan hati dalam menerima setiap keadaan yang tercipta. Belajar berfikir positif dengan dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi mungkin bisa dilakukan agar relationship yang terjalin semakin kuat. Dan yang tak kalah penting adalah adanya saling pengertian antara satu sama lain mengingat banyaknya kegiatan yang dilakukan masing-masing dan lebih kompromi terhadap waktu. Selebihnya kita dapat lebih belajar untuk bersabar dan menikmati setiap proses yang telah digariskan oleh Tuhan.
………………………………………………………………….
Dalam memandang sesuatu terkadang manusia hanya melihat dari apa yang ia lihat. Padahal apa yang ia lihat terkadang tidak seindah dan bahkan tidak seburuk yang ia lihat. Yang namanya “casing” bisa diganti setiap saat. Terkadang yang ditampilkan seseorang memang benar-benar apa yang ia ingin tampilkan bukan apa yang ingin orang lain lihat. Hanya orang yang mengalami kesempitan berpikirlah yang tertipu dan percaya hanya dengan dengan melihat casingnya saja. Dari situ dapat kita lihat bahwa dalam berpikir manusia saat ini masih banyak yang terkungkkung dengan satu sudut pandang saja atau memandang hanya dari satu sisi, dan tentunya sisi tersebut belum tentu mencerminkan suatu kebenaran. Perluasan cakrawala berpikir sangat diperlukan jika manusia ingin maju dan lebih mengembangkan budayanya.
Please Peka!!!!!